Guest

Selasa, 28 Februari 2012

Seminar Aplikasi Teknolgi Suguhkan Eco-Technopreneur Concept oleh Seorang Pejuang Mikrohido, Ibu Tri Mumpuni

Ibu Tri Mumpuni saat berfoto bersama dengan peserta

Selasa, 28 Februari 2012—Mahasiswa ITS memenuhi Pasca Sarjana lantai 3 untuk mendengarkan kisah inspiratif dan seminar aplikasi teknologi, dari seorang wanita asal Semarang yang kerap dijuluki sebagai perempuan listrik, yakni Ibu Tri Mumpuni.

Tidak hanya mahasiswa FTI yang menghadiri seminar ini, mahasiswa non FTI bahkan alumni pun turut mendaftar sebagai peserta seminar Aplikasi Teknologi, yang merupakan serangkaian acara dari program kerja CAKIL (Cakrawala Ilmiah) 2012 oleh BEM FTI-ITS. Acara dimulai pada pukul sebelas kurang sepuluh menit, dan dibuka oleh Presiden BEM FTI-ITS, Farii Fahmiuddin Fikri.

Dengan tema “Being a great engineer with a mastery of science technology applications in each regiaon of interest” dikemas sangat menarik dan inspiratif oleh Ibu Tri Mumpuni. Dengan topik “Eco-Technopreneur” yang dibawakannya, ibu Tri Mumpuni atau biasa disapa dengan ibu Puni ini menjelaskan banyak mengenai konsep-konsep Eco-Technopreneur, bagaimana menjadi eco-technopreneur sejati, dan mengenai kaidah-kaidahnya. Dalam materi yang diberikannya, beliau menyelipkan kisah-kisah dan perjuangannya selama dua dekade dalam melistriki lebih dari 60 desa, dan seringkali menyisipkan jokes yang turut mencairkan suasana.

Menurut pandangannya, eco-technopreneur merupakan tulang punggung kemerdekaan hakiki Bangsa Indonesia. Beliau menjelaskan bahwasanya eco-technopreneur sejati  ialah seseorang yang memperhatikan tiga kaidah, yakni rasa keadilan pada penduduk lokal, keselarasan dengan adat istiadat lokal, dan keselarasan dengan lingkungan alam setempat. “Jadilah wirausahawan sosial,” ujarnya.

Berbicara masalah teknologi aplikasi, sesuai denagan tema yang diusung oleh panitia, Ibu Puni menuturkan argumennya mengenai hakikat aplikasi teknologi itu seperti apa.
“Pada intinya, sebagai orang teknik, yang paling penting adalah teknologi harus dibawa sedekat mungkin dengan masyarakat. Teknologi yang bisa diaplikasikan ke masyarakat, adalah sebaik-baiknya teknologi. Dengan begitu, teknologimu akan memberi maanfaat buat masyarakat.”

Beliau bukanlah orang teknik, tetapi memperjuangkan teknologi untuk ada di sekitar masyarakat. Suaminya adalah seorang lulusan ITB, yang telah banyak mendukung perjuangan beliau berbagi untuk rakyat. Wanita yang pernah mendapatkan Ramon Magsaysay Award ini mengaku banyak belajar dari ilmu yang ada pada suaminya.
“Saya tidak memanfaatkan suami saya, tetapi saya memanfaatkan ilmu yang ada pada suami saya,”ungkapnya yang mengundang gelak tawa para peserta. Wanita 3 orang anak ini menuturkan bahwasanya suatu perubahan itu diciptakan oleh middle class yang punya hati. Beliau berulangkali menekankan pentingnya untuk berbagi dan memberi. “Just do a good things, good things wwill follow your life.” Kunci kesuksesannya adalah karena ia selalu bekerja dengan hati. “It’s about setting a goal in life. Never think about money. Work with heart. Money will follow you. Money is not wealth.”

Ibu Puni dikenal sebagai wanita sederhana yang memiliki misi besar, dan menerapkan konsep “berbagi dan memberi untuk sesama” dalam hidupnya. Ibu Puni menginspirasi banyak orang. Tak terkecuali mahasiswa ITS yang mendatangi seminar tersebut. Tepuk tangan meriah untuk beliau, ketika mengakhiri presentasinya. Akhir kata beliau sempat berpesan kepada mahasiswa ITS bahwasanya teknologi adalah entry point, sebagai pintu masuk sebuah perubahan. Sebagai generasi muda, marialh sama-sama menciptakan perubahan itu, dan mengaplikasikan teknologi yang bermanfaat untuk rakyat. (nov)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

POWERED BY:

its ecocmpus bem fti its rem fti

SUPPORTED BY:

its
 
Design by BEM FTI-ITS | Facebook:Bem fti-its | Twitter:@bemfti_its